Senin, 01 Desember 2014

Makalah Perkembangan Bahasa (Perkembangan peserta didik)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
          Manusia dilahirkan berawal pada masa bayi. Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang baru dalam kehidupan dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Selama 3 hari pertama, bayi yang normal masih lebih banyak tidur. Sekitar 80% waktunya dipergunakan untuk tidur, Setelah 2 minggu bayi mulai mampu melakukan berbagai kegiatan tanpa bantuan orang lain, mulai dari berbalik, duduk, merangkak dan lain sebagainya. Menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali, Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun social. Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antarkata dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”. Mulai masa inilah bayi mulai belajar mengenal bahasa dari sekitarnya. Anak datang dengan kemampuan membedakan bunyi yang bersesuaian dengan fonemena yang berbeda dalam semua bahasa. Apa yang berbeda selama tahun pertama kehidupan adalah bayi mempelajari fonemena yang relevan dengan bahasanya, dan kehilangan kemampuan untuk membedakan bunyi-buyi yang bersesuaian dengan fonem yang sama dalam bahasanya. Fakta luar biasa tersebut ditentukan oleh eksperimen dimana bayi dipresentasikan pasangan bunyi secara berututan sementara mereka mengisap dot.
Pemerolehan bahasa pada bayi sangatlah bertahap yang di bagi dalam beberapa bagian yang akan dibahas dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis sengaja mengangkat tema yang berkaitan dengan perkembangan bahasa pada manusia khusunya pada remaja.
I.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut di atas, dalam makalah ini penulis dapat merumuskannya menjadi beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.                  Pengertian perkembangan bahasa,
2.                  Tahapan-tahapan dalam perkembangan bahasa,
3.                  Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, dan
4.                  Karakteristik perkembangan bahasa remaja.
I.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah :
Agar kita sebagai seorang calon guru dapat memahami bagaimana proses perkembangan pedidikan anak didik kita terutama perkembangan bahasa anak.
Ø    Manfaat penulisan makalah :
·               Dengan mengetahui berbagai factor perkembangan bahasa remaja, diharapkan kita sebagai calon seorang guru mampu melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa anak.
·               Diharapkan guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas, agar perkembangan bahasa anak terarah.
·               Diharapkan adanya kritik dan saran untuk dapat lebih memahami proses perkembangan bahasa anak.


 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Perkembangan Bahasa
          Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan setiap orang dalam pergaulannya atau berhubungan dengan orang lain dan berfungsi juga untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10). Berdasarkan hasil-hasil penelitian  para ahli psikologi perkembangan, mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya. Penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu berkomunikasi dengan orang lain.
            Perkembangan bahasa dimulai dengan meniru suara atau bunyi tanpa arti dan diikuti dengan ucapan satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya. Dengan hubungan inilah, ia berhubungan social sesuai dengan tingkat perilaku sosialnya.
            Perkembangan bahasa terkait dengan kognitif, yang berarti fakta intelegensi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Tingkat intelektual bayi belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin besar bayi itu bertumbuh dan berkembang, kemmpuan berbahasanya mulai berkembang dari tingkat yang sederhana menuju tingkat yang lebih kompleks.
            Pola bahasa yang dimiliki anak adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga. Perkembangan bahasa dalam keluarga dilengkapi oleh bahasa masyarakat di mana mereka tinggal. Bersamaan dengan kehidupannya dalam masyarakat luas, anak mengikuti proses belajar di sekolah juga. Sebagaimana diketahui, di lembaga pendidikan bahasa diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan hanya memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, namun juga secara berencana dan bertahapterjadi perubahan perkembangan sistem budaya, termasuk di dalamya perilaku berbahasa.
Pengaruh pergaulan dalam masyarakat atau teman sebaya terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebayanya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok tertentu yang bentuknya amat khusus (bahasa prokem).
Perkembangan bahasa anak dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa.
Masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan, sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.

2.2. Tahapan-Tahapan Perkembangan Bahasa   
Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap sebagai berikut:
1.        Tahap meraban (pralinguistik) pertama
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa, seolah-olah menghasilkan tiap-tiap jenis bahasa yang mungkin dibuat. Banyak pengamat menandai ini sebagai tahap bayi menghasilkan segala bunyi ujaran yang dapat ditemui dalam segala bahasa dunia. Bagaimanapun juga, hal yang penting adalah bahwa suara-suara bayi yang masih kecil itu secara linguistik tidaklah merupakan ucapan-ucapan yang berdasarkan organisasi fonemik dan fonetik. Suara-suara atau bunyi-bunyi tersebut tidaklah merupakan bunyi-bunyi ujaran, tetapi barulah merupakan tanda-tanda akustik yang diturunkan oleh bayi-bayi kalau mereka menggerakkan alat-alat bicaranya dalam setiap susunan atau bentuk yang mungkin dibuat. Mereka bermain dengan alat-alat suara mereka, tetapi rabanan mereka hendaknya jangan digolongkan sebagai performansi linguistic.
2.    Tahap meraban (pralinguistik) kedua
Tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Awal tahap maraban kedua ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama kehidupan. Anak-anak tidak menghasilkan sesuatu kata yang dapat dikenal, tetapi mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan-ucapan mereka sesuai dengan pola suku kata. Banyak kerikan yang aneh-aneh serta dekutan-dekutan yang menyerupai vokal hilang dari output para bayi, dan mereka mulai menghasilkan urutan-urutan KV (konsonan-vokal), dengan satu suku kata yang sering diulang berkali-kali.
Pada suatu waktu bagian terakhir periode ini (sekitar akhir tahun pertama kehidupan) muncullah “kata pertama”. Biasanya kata itu tidak akan berbunyi lebih menyerupai kata orang dewasa daripada sejumlah rabanan yang telah dihasilkan oleh bayi selama tahap ini, tetapi akan dianggap sebagai kata pertama itu.
3.        Tahap holofrastik (tahap linguistic pertama)
Pada usia sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai sebagai rasa untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Anak menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau mobil-mobilan”, “saya mau ikut naik mobil bersama ayah”, atau “saya mau minta diambilkan mobil mainan”. Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase-holofrse, karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkanya itu. Banyak sekali terdapat kedwimaknaan dalam ujaran anak-anak selama tahap ini dan juga berikutknya. Maka seringkali perlu diamati benar-benar apa yang sedang dilakukan anak-anak itu, barulah kita dapat menentukan apa yang dia maksudkan dengan yang dia ucapkan itu.
4.        Ucapan-ucapan dua kata
Anak-anak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat. Misalnya, anak-anak yang mempergunakan holofrase-holofrase “kucing” dan “papa” mungkin menunjuk kepada seekor kucing dan diikuti oleh jeda sebentar, lalu kepada papa. Maknanya akan terlihat dari urutan ‘kucing papa’, tetapi jelas anak-anak itu telah mempergunakan dua buah holofrase untuk menyatakan makna tersebut. Segera setelah itu anak-anak akan mulai memakai ucapan-ucapan dua kata seperti ‘baju mama’, ‘pisang nenek’, ‘saya mandi’, dan sebagainya.
Pada tahap ini anak mulai memiliki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang disebut dengan istilah “kalimat dua kata” yang dirangkai secara tepat.
5.        Pengembangan tata bahasa
Pada tahap ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata jamak. Penambahan dan pengayaan terhadap sejumlah dan tipe kata secara berangsur-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan perkembangan anak.
6.        Tata bahasa menjelang dewasa (tahap pengembangan tata bahasa lengkap)
Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih kompleks lagi serta mampu melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativasi, dan kongjungsi. Perbaikan dan penghalusan yang dilakukan pada periode ini mencakup belajar mengenai berbagai kekecualian dari keteraturan tata bahasa dan fonologis dalam bahasa terkait.
7.        Kompetensi lengkap
Pada akhir masa anak-anak, perbendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami perubahan dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan performansi tata bahasa terus berkembang kea rah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap sebagai perwujudan dari kompetensi komunikasi.

2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembngan Bahasa Remaja
Secara rinci dapat didefinisikan sejumlah factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang, yaitu sebagai berikut :
1.        Pola Komunikasi Dalam Keluarga
Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya terarah akan mempercepat perkembangan bahasa anak dalam keluarga. Keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya dibanding yang menerapkan komunikasi dan interaksi sebaliknya. Jika orangtuanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan cepat, perkembangan bahasa anak pun juga akan baik dan cepat. Begitu juga sebaliknya, jika kemampuan bahasa orang tuanya lambat dan kurang baik, perkembangan bahasa anak pun ikut lambat dan kurang baik.
2.        Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)
Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan symbol-simbol dan terminologi konkret dalam mengomunikasikannya. Tinggi-rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat-lambatnya perkembangan bahasa individu.
3.        Faktor Kondisi Lingkungan
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan  antara anak yang satu dengan anak yang lain. Lingkungan tempat di mana anak tumbuh dan berkembang memberi pengaruh yang cukup besar terhadap kemampuan berbahasa.
4.        Faktor Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi cukup baik biasanya akan mampu menyediakan situasi yang baik pula bagi perkembangan bahasa anak.
5.        Faktor Kondisi Fisik
Orang yang cacat dan terganggu kesehatannya, seperti bisu, tuli, gagap, atau organ suara tidak sempurna akan terhambat perkembangannya dalam berbahasa. Faktor kondisi fisik mempengaruhi perkembangan bahasa anak Karen semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, serta kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat.
6.        Faktor Umur
Bahasa seseorang akan berkembangan sejalan dengan pertambahan usia dan pengalamannya. Disertai oleh perkembangan intelektual maka remaja akan mampu menunjukkan cara-cara berkomunikasi yang baik dan sopan.

2.4. Peranan Pendidikan dalam Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja
            Jika perkembangan kemampuan berbahasa merupakan konvergensi atau perpaduan dari faktor bawaan dan proses belajar dari lingkungannya , intervensi pendidikan yang dilakukan secara terencana dan sistematik menjadi sangat penting. Intervensi pendidikan melalui proses belajar dari lingkungan dapat di upayakan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan bahasa secara optimal. Lingkungan yang dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan bahasa perlu di kembangkan secara maksimal, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah,mampu masyarakat.
            Agar kemampuan berbahasan remaja dapat berkembang secara optimal, sejak dini anak perlu diperkenalkan dengan lingkungan yang memiliki kemampuan berbahasa yang variatif. Situasi yang menunjang perkembangan bahasa juga perlu diciptakan dan dikembangkan oleh para guru di sekolah. Di sisi lain, masyarakat perlu memberikan dukungan yang bersifat kondisi psikologis dan Sosiokultural bagi perkembangan bahasa remaja. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat perlu menciptakan suasan yang dapat membesarkan hati atau mendorong anak atau remaja untuk berani mengomunikasihkan fikiran-fikirannya. Cara demikian akan sangat membantu  perkembangan bahasa remaja karean mereka leluasa dan tudak di hantui oleh kecemasan dan ketakutan untuk mengomunikasikan apa saja yang dipikirannya.
            Guru harus mengembangkan strategi belajar mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada pontesi kemampuan anak, karena kemampuan anak berbeda-beda. Diantara strategi belajar mengajrar bahasa tersebut yaitu:
1.      Anak-anak di latih untuk mengungkapkan kembali pelajaran yang telah dipelajari dengan menggunakan bahasa atau kata-kata mereka sendiri. Dengan demikian guru dapat mengetahui perkembangan bahasa anak.
2.      Berdasarkan pengungkapan kembali pelajaran yang telah dipelajari di atas, guru dapat menambahkan perbendaharaan kata yang diperlukan,sehingga dapat meningkatkan perkembangan bahasa anak.
Disamping itu, guru dapat menggunakan metode diskusi untuk mengembangkan bahasa anak. Buku-buku, surat kabar,majalah, dan lain-lainnya selakyaknya tersedia untuk membantu perkembangan bahasa anak remaja.



BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
            Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa poin, yaitu :
1.         Para ahli psikologi perkembangan mendefinisikan perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya.
2.         Perkembangan bahasa terkait dengan kognitif, yang berarti fakta intelegensi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa.
3.         Tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam 6 tahapan, yaitu: tahap meraban/pralinguistik (pertama), tahap holofrstik (tahap linguistic pertama), tahap ucapan dua kata, tahap pengembangan tata bahasa, tahap tata bahasa menjelang dewasa, tahap kompetensi lengkap.
4.         Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa remaja, yaitu: pola komuniukasi dalam keluarga, kognisi (proses memperoleh pengetahuan, factor kondisi lingkungan, factor social ekonomi keluarga, factor kondisi fisik, dan factor umur.

3.2. SARAN
            Dengan membaca makalah ini, penulis berharap agar para pembaca yang budiman dapat mengambil satu hikmah sehingga bisa bermanfaat. Dan tentunya, penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna dan terdapat banyak kelemahan. Oleh karena itu, penulis berharap dan membutuhkan adanya saran dan masukan dari semua pihak yang bersifat membangun demi penyempurnaan pada makalah selanjutnya. Dengan demikian, adalah suatu kegembiraan kiranya jika terdapat banyak kritik dan saran dari pembaca sebagai bahan pertimbanga untuk perjalanan ke depan.





DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, S.W. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sulaeman, D. 1995. Psikologi Remaja : Dimensi-Dimensi Perkembangan. Bandung: CV Mandar Maju.
Alatas, Alwi. 2005. (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Bahagia, Sukses, Mandiri. Jakarta: Pena.
Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung : penerbit Pustaka Setia.
Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja (Perkembangan Peseta didik). Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT. Rosda Karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar